Sleman — (MTsN 5 Sleman) Sebanyak kurang lebih 40 murid perwakilan kelas 7 hingga 9 MTs Negeri 5 Sleman mengikuti sosialisasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) yang diselenggarakan oleh Puskesmas Godean 1, Rabu, 9 September 2026. Kegiatan berlangsung di Ruang baca, Perpustakaan Miftahul Ilmi MTs Negeri 5 Sleman.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada remaja mengenai berbagai persoalan yang dapat muncul pada masa perkembangan mereka, sekaligus membekali murid dengan pengetahuan dasar untuk mengenali dan merespons kondisi psikologis secara tepat.

Sosialisasi menghadirkan tiga narasumber dari Puskesmas Godean 1, yaitu dr. Fitriya Kusuma Dewi, Siam Hanifah, S.Psi., yang merupakan psikolog, serta Nurmala Wulandari, A.Md.Kep.

Pada bagian awal, para narasumber mengajak murid mengenali karakteristik masa remaja. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Perubahan tersebut dapat memunculkan berbagai tantangan, mulai dari perubahan suasana hati, persoalan pertemanan, tekanan dari lingkungan, konflik dengan keluarga, hingga masalah kepercayaan diri dan kemampuan mengelola emosi.

Murid juga diberikan pemahaman mengenai berbagai gangguan atau permasalahan yang berpotensi dialami remaja. Pengetahuan tersebut penting agar murid mampu mengenali tanda-tanda ketika dirinya sendiri maupun teman di sekitarnya sedang menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian.

Memasuki materi utama, narasumber menjelaskan tentang P3LP atau Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis. Secara sederhana, P3LP merupakan upaya awal untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang sedang mengalami tekanan atau luka psikologis sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari pihak yang memiliki kompetensi.

Luka psikologis dapat muncul akibat berbagai pengalaman yang membuat seseorang merasa tertekan, sedih, takut, kecewa, kehilangan, atau tidak berdaya. Sama seperti luka fisik yang membutuhkan pertolongan, kondisi psikologis yang terganggu juga perlu diperhatikan dan tidak seharusnya diabaikan.

Dalam sosialisasi tersebut, murid dibekali pemahaman tentang bagaimana memberikan respons awal yang tepat kepada teman yang sedang mengalami masalah. Salah satunya adalah dengan mendengarkan tanpa menghakimi, menunjukkan kepedulian, memberikan rasa aman, serta membantu menghubungkan seseorang dengan orang dewasa atau tenaga profesional apabila membutuhkan pertolongan lebih lanjut.

Murid juga diajak memahami pentingnya mencegah munculnya luka psikologis melalui kemampuan mengenali emosi, membangun komunikasi yang sehat, menjaga hubungan pertemanan, serta tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain.

Dengan adanya sosialisasi ini, murid diharapkan tidak hanya mampu menjaga kesehatan psikologis dirinya sendiri, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kondisi teman-temannya. Lingkungan sekolah yang saling peduli dan terbuka diharapkan dapat menjadi ruang yang aman bagi murid untuk belajar, bertumbuh, dan menghadapi berbagai tantangan masa remaja.

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Para murid mendapatkan kesempatan untuk menyimak materi, memahami berbagai contoh permasalahan yang dekat dengan kehidupan remaja, serta memperoleh pengetahuan mengenai langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi persoalan psikologis.

Melalui kolaborasi antara madrasah dan Puskesmas Godean 1, edukasi kesehatan remaja diharapkan tidak berhenti pada pemahaman mengenai kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan kemampuan membangun hubungan sosial yang sehat. Bekal tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk murid yang lebih sadar terhadap dirinya, peduli terhadap sesama, dan mampu mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. (HumM5)