Ada yang berbeda dari suasana MTsN 5 Sleman pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia tahun ini. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan keseharian anak-anak yang semakin akrab dengan layar gawai, halaman madrasah justru kembali dipenuhi permainan yang mungkin pernah begitu dekat dengan kehidupan generasi sebelumnya: gobak sodor, dakon, engklek, hingga lari batok.
Bukan sekadar lomba untuk memeriahkan kemerdekaan, rangkaian permainan tradisional antarkelas di MTsN 5 Sleman menjadi cara sederhana madrasah memperkenalkan kembali kekayaan dolanan anak kepada generasi muda. Tahun 2026 ini, permainan tradisional sengaja diangkat sebagai tema utama berbagai perlombaan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Beragam permainan digelar untuk siswa. Ada lomba gobak sodor, dakon, lari batok, engklek, susun puzzle, hingga ngiling-iling. Masing-masing permainan memiliki tantangan yang berbeda. Sebagian mengandalkan kemampuan individu, sementara lainnya membutuhkan kekompakan, strategi, komunikasi, dan kerja sama antarpeserta.
Di arena engklek, misalnya, siswa dituntut menjaga keseimbangan dan ketepatan langkah. Dakon menghadirkan permainan yang mengasah strategi dan kecermatan. Lari batok menguji keseimbangan sekaligus keberanian. Sementara itu, gobak sodor menghadirkan suasana yang jauh lebih riuh karena setiap anggota tim harus membaca gerak lawan dan bekerja sama agar dapat melewati penjagaan.
Hal yang sama terlihat dalam permainan ngiling-iling. Permainan ini tidak cukup hanya mengandalkan satu orang yang memiliki kemampuan mengingat. Setiap peserta harus saling mendukung dan mengandalkan kekuatan kelompok. Dari sinilah permainan tradisional menjadi ruang belajar yang sesungguhnya—belajar berkonsentrasi, berkomunikasi, bekerja sama, menerima kekalahan, dan merayakan kemenangan tanpa kehilangan sportivitas.
Bagi OSIM MTsN 5 Sleman, pemilihan tema dolanan anak bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ketua OSIM, Dzaki Edna Mahendra, menuturkan bahwa kegiatan serupa telah dilakukan madrasah sejak tahun sebelumnya.
“Di tahun 2025 madrasah juga sudah menyelenggarakan lomba bertema dolanan anak. Tentu saja hal ini dilakukan agar murid madrasah kembali mengenal budaya kita, khususnya di Jawa. Selain itu juga agar para murid tidak terlalu terpaku pada HP,” tuturnya.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika permainan tradisional dihadirkan di lingkungan sekolah. Anak-anak yang sehari-hari terbiasa berinteraksi dengan teknologi mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya. Tidak ada layar yang menjadi pusat perhatian. Yang ada adalah suara sorak-sorai, tawa, strategi yang disusun bersama, serta interaksi antarsiswa yang berlangsung secara nyata.
Kepala MTsN 5 Sleman, Drs. H. Busyroni Majid, M.Si., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, peringatan kemerdekaan tidak hanya perlu dirayakan dengan semangat kompetisi, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya sendiri.
Dalam sambutan pembukaan, ia mengingatkan para siswa untuk menjaga sportivitas selama mengikuti perlombaan. Semangat berkompetisi harus berjalan bersama dengan sikap saling menghargai. Menjadi generasi masa kini, menurutnya, tidak berarti harus meninggalkan tradisi yang baik dari masa lalu.
Merawat permainan tradisional juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali identitas budaya kepada peserta didik. Anak-anak perlu mengetahui bahwa sebelum permainan digital memenuhi ruang bermain, masyarakat Indonesia telah memiliki beragam permainan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai pendidikan.

Dari rangkaian lomba tersebut terlihat bahwa dolanan anak memiliki banyak sisi edukatif. Gobak sodor mengajarkan strategi dan kerja sama. Dakon melatih kecermatan dan perencanaan. Engklek mengembangkan keseimbangan dan ketangkasan. Lari batok melatih koordinasi tubuh. Sementara permainan kelompok mengajarkan komunikasi, kepemimpinan, serta kemampuan mengambil keputusan bersama.
Namun, barangkali pelajaran yang paling penting justru tidak tercatat dalam lembar penilaian lomba. Ia hadir dalam tawa siswa ketika terjatuh lalu bangkit kembali, dalam teman yang memberi semangat ketika timnya tertinggal, atau dalam ekspresi kecewa yang perlahan berubah menjadi senyum ketika menyadari bahwa permainan memang tidak selalu harus berakhir dengan kemenangan.
Suasana madrasah pun berubah menjadi begitu hidup. Halaman dan berbagai sudut tempat perlombaan dipenuhi suara peserta dan pendukung. Sorak-sorai terdengar ketika sebuah tim berhasil melewati penjagaan gobak sodor. Gelak tawa pecah ketika peserta mencoba mempertahankan keseimbangan di atas batok kelapa. Sementara di arena permainan lainnya, siswa terlihat serius menyusun strategi untuk menjadi yang terbaik.
Pada akhirnya, perayaan kemerdekaan di MTsN 5 Sleman tahun ini bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan juara. Lebih dari itu, ada upaya untuk menghadirkan kembali ruang bermain yang sehat, interaktif, dan sarat nilai kebersamaan.
Di tengah zaman ketika permainan anak semakin banyak berpindah ke layar, MTsN 5 Sleman memilih menghadirkan kembali permainan yang membuat anak-anak berlari, bergerak, berpikir, tertawa, dan berinteraksi. Sebuah cara sederhana untuk mengingatkan bahwa teknologi boleh terus berkembang, tetapi akar budaya dan kegembiraan bermain bersama tetap layak dirawat.
Dan mungkin, di antara riuh gobak sodor, bunyi biji dakon, langkah engklek, serta tawa anak-anak itulah semangat kemerdekaan menemukan bentuknya yang paling sederhana: bebas bermain, bebas belajar, bebas mengenal budaya sendiri, dan tumbuh bersama sebagai generasi yang berkarakter.